AHMAD HERYAWAN BERI PENGHARGAAN DADANG M NASER SEBAGAI BUPATI PELOPOR PENGEMBANG KOPI DI JAWA BARAT

217

OPININEWS.COM, BANDUNG – Eksistensi petani dan citarasa kopi Kabupaten Bandung telah diakui kalangan pecintanya, bahkan beberapa waktu lalu, telah mendapatkan beberapa penghargaan kelas dunia. Salah satunya yakni pada ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016, 14-17 April 2016 lalu. Kopi yang ditanam petani di lembah Gunung Puntang menjadi yang terbaik dalam uji cita rasa dan harga lelang. Beras biji kopi mendapat nilai 86,25 dengan harga lelang 55 dollar Amerika Serikat per kilogram, juga sejumlah penghargaan lainnya.

“Di berbagai festival tingkat dunia kopi kita selalu juara dan yang paling spektakuler pada bulan April 2016 lalu, melalui ajang SCAA di Atlanta Amerika Serikat, dari 20 sample kopi terbaik dunia ternyata 6 kopi terbaik dinyatakan qiugrader berasal dari Jawa Barat dan termasuk kopi specialty karena memperoleh score > 84. Pada saat ini pula harga kopi Jawa Barat mulai naik khususnya kopi asal Gunung Puntang mendapat tawaran $55/kg greenbean atau setara dengan Rp. 700.000/kg greenbean, artinya jika telah diroasting bisa mencapai 1 jutaan,” Kata Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, kepada OPININEWS.COM, di Gedung Sate, Bandung, Rabu (28/12/2016).

Keberhasilan tersebut tak lepas dari dukungan berbagai pihak, salah satunya dari Bupati Bandung Dadang Mochamad Naser. Pada acara pembagian 2 juta benih kopi kepada petani kopi Jawa Barat, Bupati mendapatkan penghargaan sebagai  pelopor pendukung pengembang kopi. Penghargaan tersebut diberikan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) di Gedung Pakuan Jl. Otto Iskandar Dinata, Selasa (27/12).

Gubernur menuturkan, bahwa perhatian masyarakat Jawa Barat terhadap kopi saat ini sudah mulai menggeliat kembali. Untuk mendukung industry kopi sekaligus ikut mengurangi kawasan rawan, pihaknya membagikan 2 juta bibit kopi, yang akan disalurkan pada 390 orang petani.

“390 orang petani yang tergabung dalam 130 kelompok tani akan mendapatkan bibit tanaman kopi, diantaranya Kabupaten Bandung mendapat 457.750  bibit pohon kopi, Kabupaten Bandung Barat 183.500 bibit, Kabupaten Garut 349.900 bibit, Kabupaten Tasikmalaya 112.500 bibit, Kabupaten Ciamis 52.000 bibit, Kabupaten Majalengka 111.250 bibit, Kabupaten Sumedang 428.100 bibit, Kabupaten Subang 12.000 bibit, Kabupaten Cianjur 113.500 bibit, Kabupaten Sukabumi 84.800 bibit dan Kabupaten Bogor 94.700 bibit,” imbuhnya.

Heryawan mengklaim “kopi Jawa Barat adalah kopi terbaik di muka bumi ini” dan menurutnya ketika kita menyebut kopi terbaik maka kemudian dunia langsung berpikir ada kopi arabika, ternyata kopi arabika terbaik di dunia ada di Indonesia dan kopi terbaik di Indonesia ada di Pulau Jawa, lalu kopi terbaik di Pulau Jawa ada di “Provinsi Jawa Barat” pernyataan terakhir ini yang terpenting,”

Sebagai penerima penghargaan “pelopor pendukung pengembang kopi di Jawa Barat”, Dadang Naser tidak cepat puas. Ia berharap, selain bisa meningkatkan mutu industri kopi dan perekonomian petani, Ia menginginkan para petani juga menjadi pelopor keberhasilan untuk pengembangan lingkungan hijau.  Dadang mengajak kepada seluruh masyarakat Kabupaten Bandung, agar saling menguatkan komitmen terhadap produk-produk sendiri.

“Selain meningkatkan perekonomian, melalui Komitmen ini dilakukan agar pengusaha industri, masyarakat dan petani bisa menumbuhkan kemitraan jangka panjang agar Leuweung Hejo Rakyat Ngejo, “ imbuhnya.

457.750 bibit pohon kopi yang diterima Kabupaten Bandung, kata Dadang, selanjutnya akan ditanam di kawasan hulu sungai Citarum dan daerah rawan bencana longsor lainnya. Dengan harapan untuk mengurangi resiko bencana yang seringkali terjadi di Kabupaten Bandung, aksi penanaman akan terus dilakukan termasuk melakukan kerjasama dengan perhutani lanjutnya.

“Seluruh bibit pohon kopi ini akan kita gunakan untuk merehabilitasi dan mengkonservasi kawasan hulu sungai Citarum. Harus dipahami bahwa kopi adalah tanaman konservasi, tidak ditebang untuk mendapatkan hasilnya oleh sebab itu sangat baik bekerjasama dengan perhutani untuk menanam kopi di bawah tegakan kayu-kayu. Terutama pada lahan yang sudah tergolong kategori berlereng miring, jangan lagi ditanami sayuran tapi tanamlah kopi, sebagai tanaman konservasi yang juga tanaman produksi, “ucap Dadang. ( Saufat Endrawan )