KABUPATEN BANDUNG SARANG TERORIS

232
Rumah yang dikontrak tersangka teroris Abu Sofi di Desa Sekar Wangi, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, masih dipasang garis polisi, Rabu (27/12/2016). (foto/saufat endrawan/opininews.com)

OPININEWS.COM, BANDUNGSelama tahun 2015 – 2016 Densus 88 Anti Teroris telah menangkap, menembak mati dan mengeladah rumah tersangka teroris di wilayah kabupaten Bandung. Beberapa Kecamatan yang rentann menjadi sarang persembunyian teroris diantarannya di Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot, Marga Asih, Banjaran dan Kecamatan Soreang.

Rabu (28/ 12/ 2016) tim Densus 88 Anti Teroris, masih mengembangkan dan menyelidiki rumah tersangka teroris, Abu Sofi, yang tewas akibat ditembak Densus 88 di Purwakarta beberapa waktu. Dan petugas, Senin kemarin mengeledah rumah kontrakan istri pertama dan istri kedua Abu Sofi, di Kampung Lebak Wangi RT 02/ 18 Desa Sekar Wangi dan Kampung Sirna Galih, Desa Sekarwangi, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung.

Abu Sofi, untuk mengontrak di dua kampung menggunakan identitas KTP yang bebeda. Di Kontrakan istri pertama menggunakan nama Budi, sedangkan mengontak untuk istri kedua menggunakan nama Rizal.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana aparat desa, kecamatan hingga petugas catatan sipil bisa mengeluarkan KTP ganda dengan nama berbeda, untuk satu orang.

Pemilik kontrakan, Hanah (65) kepada OPININEWS.COM, di Bandung, Rabu (27/12/2016) mengakui, Abu Sofi mengontrak di rumahnya sudah tiga bulan lamanya. “Saya tidak tahu bahwa Budi nama aslinya Abu Sofi. Dan keget bahwa dia teroris. Setahu saya, dia namanya Budi. Mengontrak selama tiga bulan bersama istrinya yang bercadar,” jelas Hanah.

Mereka berdua, bersama anaknya, ngontrak pindah-pindah. “Ternyata dia juga ngontrak buat istri keduanya di kampung yang bersebelahan dengan kampung kami,” jelasnya.

Abu Sofi, untuk mencukupi kebutuhan dua istrinya dan sebelas anaknya, dengan berjualan minuman teh manis dingin di alun-alun soreang, yang berhadapan dengan Kantor Polsek Soreang.

Setiap harinya, jika tengah berdagang ikut shalat dan ambil air di Mushala Polsek Soreang. Jika tengah berdagang, tidak seperti berjualan, namun lebih disibukan dengan memainkan telepon gengam dan PDA.

“Saya juga heran, hanya Abu Sofi yang berjualan santai, baru melepas HP nya jika ada anak anak sekolah yang beli minuman. Jika tidak ada beli pasti HP ngk pernah lepas diamainkan,” kata Joko pedagang di Alun-Alun Soreang.

Hingga Rabu (27/12/2016) sore garis polisi masih terpasang, dan pemilik rumah kontrakan belum berani membukanya. ( Saufat Endrawan )