Masyarakat Harus Paham Alasan Pasien di Rujuk ke Rumah Sakit Lain Demi Kebaikan Pasien
dr. Yuli: Sesuai Arahan KDS RS Otista Terus Maksimalkan Pelayanan

Saufat Endrawan
Dirut Rumah Sakit Otista Kab. Bandung - dr. Hj. Yuli Imawati Mosjasari
OPININEWS.COM, Bandung -- Rumah Sakit Oto Iskandar Dinata (Otista) merupakan milik Pemerintah Kabupaten Bandung yang lokasinya di Jalan Raya Gading Tutuka, Soreang, Kabupaten Bandung.
Sesuai arahan Bupati Bandung, Dr. H.M. Dadang Supriatna, S.Ip,.M.Si rumah sakit terbesar milik Pemkab Bandung ini tidak boleh menolak pasien dari kelurga kurang mampu apalagi yang menggunakan BPJS Kesehatan.
“Berikan pelayanan dan tangani dulu pasien. Masalah Administrasi bisa di selesaikan belakangan. Ini Imbauan dan arahan saya kepada seluruh pelayanan kesehatan milik Pemkab Bandung,” tegas Bupati Bandung, Dadang Supriatna yang di sapa akrab dengan panggilan KDS.
Harapan KDS ini mendapatkan attensi dan perhatian serius dari Direktur Utama (Dirut RS Otista) Kabupaten Bandung, dr. Hj. Yuli Imawati Mosjasari.
Kepada Jurnalis www.opininews.com, di sela-sela mendampingi Bupati Bandung, KDS melepas Jemaah Calon Haji Kabupaten Bandung, di Lanud Sulaiman, Margahayu, Yuli Imawati menyatakan, selama ini Rumah Sakit Otista telah melaksanakan hal yang di harapkan Pak Bupati.
“Kami selalu melayani terlebih dahulu. Namun karena kurangnya ruang dan tempat tidur. Maka kami rujuk ke rumah sakit lain demi kebaikan pasien. Namun, kadang niat baik muncul keluar berita di luar dan di medsos pihak kami menelantarkan pasien,” ungkap Yuli.
Saat ini tutur Yuli, Rumah Sakit Otista siap melayani layanan kesehatan 24 jam, dengan 23 jenis pelayanan poliklinik, dintaranya Klinik Jantung Anak, Hemato Onkologi, Poli Saraf, dan Poli Jantung.
Selain itu, lanjutnya ada Layanan kemoterapi untuk kanker, pelayanan juntung, pasang ring jantung.
“Kami telah bekerja sama dengan BPJS, juga menambah layanan menangani penderita batu ginjal, Dengan adanya alat ini mudah-mudahan seluruh pelayanan yang kita tambahkan dapat lebih membantu masyarakat Kabupaten Bandung untuk berobat tidak jauh harus ke tempat lain ke Kota Bandung,” kata dr. Yuli.
“Biasanya pasien ini berobat ke RSHS. Diharapkan kini warga Kabupaten Bandung dapat memanfaatkan Rumah Sakit Otista. Kami dan Pak Bupati berupaya terus berbenah diri karena memang akhir-akhir ini pasien semakin meningkat kunjungannya. Maka akan menambah juga perluasan di layanan IGD kemudian kita akan terus melakukan pembenahan untuk alur pasien agar menjadi lebih cepat dalam memberikan pelayanan kapasitas saat ini,” jelas Dirut RS Otista.
Disebutkan dr. Yuli, ruang tidur untuk pasien inap, saat ini memiliki 272 tempat tidur dimana dengan seiringnya bertambah pasien, perlu menambah ruang rawat an tempat tidur pasien. Perlu di pahami masyarakat, pelayanan tidak bisa dipaksakan.
Ketika ada pasien yang masih disimpan di ruang IGD, karena RS Otista memiliki kapasitas terbatas.
“Tempat tidur pun pasti berbeda antara ruang rawat anak dan dewasa, ruang kebidanan, ruang penyakit dalam. Isue negatif muncul karena masyarakat belum paham hal ini. Pihak kami tak mudah beri pelayanan, mungkin saat itu pas kebetulan ruang penyakit dalam nya penuh tapi ruang anak kosong. Itu tidak bisa juga ditempatkan di sana belum lagi kita memiliki aturan juga menjaga privasi ruang rawat inap laki-laki dengan rawat inap perempuan kan tidak boleh dicampur,” jelas dr. Yuli.
Inilah lanjut dr. Yuli, ada pasien tak bisa di tampung, sehingga kita akan melihat kondisi pasien jika kondisi pasien yang memerlukan segera tindakan rawat inap kami akan upayakan untuk merujuk ke rumah sakit lain yang memang tersedia tempat tidurnya.
Jika memang ini pasien, kondisinya masih stabil bisa menunggu, bisa menunggu di IGD hingga ruang rawat inapnya ada, karena psien sebelumnya sudah bisa pulang.
“Jadi semuanya tergantung kondisi pasien yang dinilai oleh dokter jaga IGD,” tegas dr. Yuli.
( Saufat Endrawan )
Editor: Saufat Endrawan